Senin, 30 Desember 2013

Sebagian sifat yang membedakan Nabi Muhammad SAW dengan manusia biasa.


MAMPU MELIHAT DARI BELAKANG SEBAGAIMANA DARI DEPAN Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian melihat qiblatku di sini ?. Demi Allah, ruku’ dan sujud kalian tidak samar bagi saya. Sungguh saya bisa melihat kalian dari balik punggungku.” Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya saya adalah imam kalian. Maka janganlah mendahului saya dengan ruku’ dan sujud. Karena saya bisa melihat kalian dari arah depan dan belakang.” Abdurrazaq meriwayatkan dalam karyanya, dan Al Hakim serta Abu Nu’aim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya saya mampu melihat sesuatu dari arah belakangku sebagaimana dari arah depanku.” Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh saya mampu melihat kalian dari balik punggungku.”

 BELIAU MAMPU MELIHAT APA YANG TIDAK KITA LIHAT DAN MAMPU MENDENGAR APA YANG TIDAK KITA DENGAR Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Sungguh saya mampu melihat apa yang tidak kalian lihat dan mampu mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bersuara dan ia memang wajib bersuara. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya, tidak ada di langit tempat seluas empat jari-jari kecuali ada malikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak tersenyum, tidak akan bersenang-senang dengan wanita di atas tempat tidur dan niscaya akan pergi ke tempat-tempat tinggi berlindung kepada Allah.” Abu Dzarr berkata, “Sekiranya saya jadi pohon yang ditebang.” HR. Ahmad, Al Turmudzi dan Ibnu Majah.

 KETIAK MULIA NABI SAW Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW berdo’a seraya mengangkat kedua tangan beliau hingga kedua ketiaknya terlihat.” Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Nabi SAW itu jika sujud maka warna putih kedua ketiak beliau terlihat.” Dalam banyak hadits dari sekelompok sahabat terdapat keterangan yang menjelaskan putihnya kedua ketiak beliau. Al Muhib Al Thabari berkata, “Salah satu keistimewaan beliau SAW adalah bahwa ketiak semua orang berubah warnanya kecuali beliau.” Al Qurthubi mengemukan pendapat yang sama dengan Al Thabari. “Dan sesungguhnya ketiak beliau tidak berambut,” tambahnya.

 NABI SAW TIDAK MENGUAP Al Bukhari meriwayatkan dalam Al Tarikh, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf dan Ibnu Sa’ad dari Yazid ibn Al Ashamm, ia berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi SAW menguap.” Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Maslamah ibn Abdil Malik ibn Marwan, ia berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi SAW menguap.”

 AIR KERINGAT MULIA NABI SAW Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW masuk menemui kami lalu beliau tidur siang. Saat tidur badan beliau mengeluarkan keringat. Ibuku datang membawa botol. Kemudian ia mengambil keringat Nabi dengan kain. Lalu Nabi terjaga dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan ini, wahai Ummu Sulaim ?”. “Keringat yang saya masukkan dalam minyak wangi saya. Keringat ini paling wanginya wewanginan,” jawab ibuku. Muslim juga meriwayatkan lewat jalur lain dari Anas, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi Ummu Sulaim. Lalu beliau hendak tidur siang. Ummu Sulaim kemudian menggelar alas dari kulit dan Nabi tidur di atasnya. Nabi adalah orang yang banyak mengeluarkan keringat. Ummu Sulaim kemudian mengumpulkan keringat beliau lalu memasukkannya dalam minyak wangi dan botol. “Wahai Ummu Sulaim, apa ini ?” tanya Nabi. “Keringat yang saya campurkan pada minyak wangi saya,” jawab Ummu Sulaim.

 TINGGI BADAN NABI SAW Ibnu Khaitsamah meriwayatkan Tarikhnya, Al Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah bukan lelaki jangkung dan pendek. Jika berjalan sendirian postur beliau dinilai sedang. Jika beliau berjalan dengan seseorang yang dinilai tinggi maka tinggi beliau akan melampauinya. Terkadang beliau didampingi oleh dua orang yang berpostur tinggi tapi tinggi badan beliau mengalahkan keduanya. Jika keduanya meninggalkan beliau, maka beliau dinilai sebagai orang yang berpostur sedang. Dalam Al Khashaish, Ibnu Sab’in menyebutkan hal di atas. “Sesungguhnya Rasulullah SAW jika duduk maka pundak beliau lebih tinggi dari semua orang yang duduk,” tambah Ibnu Sab’in.

BAYANGAN RASULULLAH SAW Al Hakim dan Al Turmudzi meriwayatkan dari Dzakwan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki bayangan baik di bawah sinar matahari atau pun bulan. Ibnu Sab’in berkata, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW adalah bahwa bayangan beliau tidak jatuh di atas tanah dan bahwa beliau adalah cahaya. Jika beliau berjalan di bawah sinar matahari atau bulan maka tidak terlihat bayangan beliau. Sebagian ulama mengatakan, “Fakta ini diperkuat oleh sebuah hadits beliau dalam berdo’a, “Jadikanlah saya cahaya.” Al Qadli ‘Iyadl dalam Al Syifa’ dan Al ‘Izz dalam Maulidnya mengatakan, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW bahwa beliau tidak dihinggai lalat.” Dalam Al Khashaish. Ibnu Sab’in menyebutkannya dengan redaksi : Tidak ada seekor nyamuk pun yang hinggap di atas pakaian Nabi SAW. “Bahwa kutu tidak menyakiti beliau,” tambahnya.

 DARAH NABI SAW Al Bazzar, Abu Ya’la, Al Thabarani, Al Hakim dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah ibn Zubair bahwa ia datang kepada Nabi SAW pada saat beliau sedang melakukan bekam. Setalah Nabi selesai berbekam beliau berkata, “Wahai Abdullah, pergilah dan tumpahkanlah darah ini di tempat yang tidak diketahui orang.” Abdullah meminum darah tersebut. Ketika ia kembali Nabi bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” “Saya letakkan darah tersebut dalam tempat paling tersembunyi yang saya tahu bahwa tempat itu tersembunyi dari manusia,” jawab Abdullah ibnu Zubair. “Paling engkau meminumnya.” “Benar.” “Celakalah manusia karena kamu dan celakalah kamu karena mereka,” kata Nabi. Akhirnya orang-orang menganggap bahwa kekuatan yang dimiliki Abdullah ibnu Zubair adalah akibat meminum darah Nabi SAW.

 TIDURNYA NABI SAW Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia bertanya, “Apakah engkau akan tidur sebelum shalat witir?” “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur,” jawab Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Para Nabi itu mata mereka tertidur namun hati mereka tidak.”
 HUBUNGAN INTIM NABI SAW Al Bukhari meriwayatkan dari jalur Qatadah dari Anas, ia berkata, “Nabi SAW menggilir para istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam satu waktu pada siang dan malam.” Saya bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi kuat?” “Kami mengobrol bahwa beliau diberi kekuatan 30 laki-laki,” jawab Anas.
 TERHINDARNYA BELIAU DARI MIMPI BASAH Al Thabarani meriwayatkan lewat jalur ‘Ikrimah dari Anas dan Ibnu ‘Abbas, dan Al Dinawari dalam Al Mujalasah lewat jalur Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Tidak ada seorang Nabi pun yang mimpi basah. Karena mimpi basah hanyalah dari syetan.”

 AIR SENI NABI SAW Al Hasan ibnu Sufyan meriwayatkan dalam Al Musnadnya, Abu Ya’la, Al Hakim, Al Daruquthni, dan Abu Nu’aim dari Ummu Aiman, ia berkata, “Suatu malam Nabi bangkit berdiri menuju kendi yang ada di samping rumah lalu beliau kencing pada tempat itu. Kemudian pada malam itu saya bangun dan merasa haus. Lalu saya minum dari isi kendi tersebut. Saat pagi tiba saya menceritakan peristiwa semalam kepada beliau. Beliau tertawa dan berkata, “Sesungguhnya setelah hari ini perut kamu tidak akan merasakan sakit selamanya.” ‘Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Saya diberi informasi bahwa Nabi SAW kencing pada wadah kayu lalu wadah itu diletakkan di bawah tempat tidur beliau. Kemudian Nabi datang tapi tiba-tiba wadah itu tidak ada isinya sama sekali. Lalu Nabi bertanya kepada seorang perempuan bernama Barakah yang mengabdi kepada Ummu Habibah dan datang bersamanya dari tanah Habasyah, “Di manakah air seni yang ada pada wadah?” “Saya minum,” jawab Barakah. “Sehat, wahai Ummu Yusuf,” lanjut Nabi. Barakah pun dijuluki Ummu Yusuf dan tidak mengalami sakit sama sekali sampai sakit yang dialami waktu kematian menjemput. Ibnu Dihyah berkata, “Peristiwa yang dialami Barakah adalah peristiwa lain, bukan peristiwa Ummu Aiman dan Barakah Ummu Yusuf bukan Barakah Ummu Aiman.”

Selasa, 24 Desember 2013

NABI MUHAMMAD SAW di alam barzah

Sabda Rasulullah saw : “aku melewati Musa (as) dimalam aku di Isra kan di Katsibil
Ahmar dan Musa berdiri di kuburnya dan ia shalat” (Shahih Muslim Bab Fadhail), bahkan
firman Allah swt : “Janganlah kalian menyangka orang yang terbunuh dijalan Allah itu
mati, bahkan mereka hidup dan diberi rizki oleh Allah” (Al Imran-169),
Saya perjelas lagi bahwa berdoa di kuburan pun adalah sunnah Rasulullah saw, beliau saw
bersalam dan berdoa di Pekuburan Baqi’, dan berkali - kali beliau saw melakukannya,
demikian diriwayatkan dalam Shahihain Bukhari dan Muslim, dan beliau saw bersabda :
“Dulu aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahlah”.
(Shahih Muslim hadits No.977 dan 1977)
Dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengucapkan salam untuk ahli kubur
dengan ucapan “Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmu’minin walmuslimin, wa
Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As’alullah lana wa lakumul’aafiah..” (Salam sejahtera
atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang
Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan
menyusul kalian, Aku memohon kepada Allah untukku dan kalian Afiah ) (Shahih Muslim
hadits No 974, 975, 976). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersalam pada Ahli
Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan “Sungguh Kami Insya
Allah akan menyusul kalian”.

Rasul saw berbicara kepada yang mati sebagaimana selepas perang Badr, Rasul saw
mengunjungi mayat – mayat orang kafir, lalu Rasulullah saw berkata : “wahai Abu Jahal bin
Hisyam, wahai Umayyah bin Khalf, wahai ‘Utbah bin Rabi’, wahai syaibah bin rabi’ah,
bukankah kalian telah dapatkan apa yang dijanjikan Allah pada kalian…?!, sungguh
aku telah menemukan janji Tuhanku benar..!”, maka berkatalah Umar bin Khattab ra
: “wahai rasulullah.., kau berbicara pada bangkai, dan bagaimana mereka mendengar
ucapanmu?”, Rasul saw menjawab : “Demi (Allah) Yang diriku dalam genggamannya,
engkau tak lebih mendengar dari mereka (engkau dan mereka sama – sama mendengarku),
akan tetapi mereka tak mampu menjawab” (Shahih Muslim hadits No.6498).
Makna ayat : “Sungguh Engkau tak akan didengar oleh yang telah mati”.
Berkata Imam Qurtubi dalam tafsirnya makna ayat ini bahwa yang dimaksud orang yang
telah mati adalah orang kafir yang telah mati hatinya dengan kekufuran, dan Imam
Qurtubi menukil hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasul saw
berbicara dengan orang mati dari kafir Quraisy yang terbunuh di perang Badr. (Tafsir
Qurtubi Juz 13 hal 232).

Berkata Imam Attabari rahimahullah dalam tafsirnya bahwa makna ayat itu : bahwa engkau
wahai Muhammad tak akan bisa memberikan kefahaman kepada orang yang telah
dikunci Allah untuk tak memahami (Tafsir Imam Attabari Juz 20 hal 12, Juz 21 hal 55)
Berkata Imam Ibn katsir rahimahullah dalam tafsirnya : “walaupun ada perbedaan pendapat
tentang makna ucapan Rasul saw pada mayat – mayat orang kafir pada peristiwa Badr,
namun yang paling shahih diantara pendapat para ulama adalah riwayat Abdullah bin
Umar ra dari riwayat riwayat shahih yang masyhur dengan berbagai riwayat, diantaranya
riwayat yang paling masyhur adalah riwayat Ibn Abdilbarr yang menshahihkan riwayat
ini dari Ibn Abbas ra dengan riwayat Marfu’ bahwa : “tiadalah seseorang berziarah ke
makam saudara uslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga menjawab
salamnya”, dan hal ini dikuatkan dengan dalil shahih (riwayat shahihain) bahwa
Rasul saw memerintahkan mengucapkan salam pada ahlilkubur, dan salam hanyalah
diucapkan pada yang hidup, dan salam hanya diucapkan pada yang hidup dan berakal
dan mendengar, maka kalau bukan karena riwayat ini maka mereka (ahlil kubur) adalah
sama dengan batu dan benda mati lainnya. Dan para salaf bersatu dalam satu pendapat
tanpa ikhtilaf akan hal ini, dan telah muncul riwayat yang mutawatir (riwayat yang sangat
banyak) dari mereka, bahwa Mayyit bergembira dengan kedatangan orang yang hidup ke
kuburnya”. Selesai ucapan Imam Ibn Katsir (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 3 hal 439).

Riwayat lainnya Rasul saw bertanya – tanya tentang seorang wanita yang biasa berkhidmat
di masjid, berkata para sahabat bahwa ia telah wafat, maka Rasul saw bertanya : “mengapa
kalian tak mengabarkan padaku?, tunjukkan padaku kuburnya” seraya datang ke
kuburnya dan menyolatkannya, lalu beliau saw bersabda : “Pemakaman ini penuh
dengan kegelapan (siksaan), lalu Allah menerangi pekuburan ini dengan shalatku pada
mereka” (Shahih Muslim hadits No.956)
Abdullah bin Umar ra bila datang dari perjalanan dan tiba di Madinah maka ia segera masuk
masjid dan mendatangi Kubur Nabi saw seraya berucap : Assalamualaika Yaa Rasulallah,
Assalamualaika Yaa Ababakar, Assalamualaika Ya Abataah (wahai ayahku)”. Sunan
Imam Baihaqi Alkubra hadits No.10051
Berkata Abdullah bin Dinar ra : Kulihat Abdullah bin Umar ra berdiri di kubur Nabi saw
dan bersalam pada Nabi saw lalu berdoa, lalu bersalam pada Abubakar dan Umar ra”
(Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits No.10052)
Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yang pergi haji, lalu menziarahi kuburku setelah aku
wafat, maka sama saja dengan mengunjungiku saat aku hidup (Sunan Imam Baihaqiy
Alkubra hadits No.10054).

Dan masih banyak lagi kejelasan, dan memang tak pernah ada yang mengingkari ziarah kubur
sejak Zaman Rasul saw hingga kini selama 14 abad (1.400 ratus tahun lebih semua muslimin
berziarah kubur, berdoa, bertawassul, bersalam dll tanpa ada yang mengharamkannya
apalagi mengatakan musyrik kepada yang berziarah, hanya kini saja muncul dari kejahilan
dan kerendahan pemahaman atas syariah, munculnya pengingkaran atas hal – hal mulia ini
yang hanya akan menipu orang awam, karena hujjah – hujjah mereka batil dan lemah.
Dan mengenai berdoa di kuburan sungguh hal ini adalah perbuatan sahabat radhiyallahu’anhu
sebagaimana riwayat diatas bahwa Ibn Umar ra berdoa dimakam Rasul saw, dan memang
seluruh permukaan bumi adalah milik Allah swt, boleh berdoa kepada Allah dimanapun,
bahkan di toilet sekalipun boleh berdoa, lalu dimanakah dalilnya yang mengharamkan
doa di kuburan?, sungguh yang mengharamkan doa dikuburan adalah orang yang dangkal
pemahamannya, karena doa boleh saja diseluruh muka bumi ini tanpa kecuali.

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar :
Bahwa para syuhada hidup sebagaimana Nash Alqur’an, dan para Nabi lebih afdhal dari para
Syuhada, sebagaimana buktinya adalah hadits yg dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Abu
Hurairah ra : “Dan bershalawatlah kalian kepadaku, sungguh shalawat kalian disampaikan
padaku dimanapun kalian berada”, dan sanadnya shahih, dan berkata Abu Syeikh dalam
kitab Attsawab dengan sanad Jayyid dengan lafadh : “Barangsiapa yang bershalawat
kepadaku dikuburku, aku mendengarnya, dan barangsiapa yang bershalawat padaku
dimanapun, maka disampaikan padaku”, dan juga riwayat Abu Dawud dan Nasa’i yang
dishahihkan oleh Ibn Khuzaimah dari Aus bin Aus dalam keutamaan hari Jumat : “Maka
perbanyaklah shalawat padaku dihari itu karena shalawat kalian ditunjukkan padaku,
mereka berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan shalawat padamu jika
engkau telah musnah?, maka Rasul saw bersabda : “Allah mengharamkan permukaan
Bumi untuk memakan Jasad para Nabi”, selesai ucapan Imam Ibn Hajar. (Fathul Baari bi
Syarah Shahihul Bukhari hadits no.3185 Bab Ahaditsul Anbiya).
Dijelaskan oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya :
وقوله: } وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللََّه وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللََّه تَوَّابًا
رَحِيمًا { يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى
الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم
{ ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: } لَوَجَدُوا اللََّه تَوَّابًا رَحِيمًا
وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه “الشامل” الحكاية المشهورة عن
العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا
رسول الله، سمعت الله يقول: } وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللََّه وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ
الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللََّه تَوَّابًا رَحِيمًا { وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول: يا
خيرَ من دُفنَت بالقاع ) 1( أعظُمُه ... فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه ... فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ ... ثم انصرف الأعرابي فغلبتني
عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد
غفر له

“Dan firman Nya swt : “Dan sungguh ketika mereka telah mendholimi diri mereka
sendiri (berbuat dosa) lalu mereka berdatangan padamu (wahai Muhammad saw),
lalu mereka beristighfar pada Allah swt, lalu Rasul saw beristighfar untuk mereka,
maka mereka akan dapatkan Allah swt menerima tobat mereka dan Maha Berkasih
Sayang (QS Annisa 64), bahwa Allah swt mengajarkan para pendosa dan yg berbuat
maksiat jika terjadi dosa dan kesalahan pada mereka, agar mengunjungi Rasul saw,
dan beristighfar pada Allah swt dihadapan Rasul saw, dan meminta pada Rasul saw
agar memohonkan pengampunan bagi mereka, dan sungguh jika mereka berbuat
itu maka Allah swt memberikan Taubat pada mereka dan menyayangi mereka, dan
mengampuni mereka, untuk hal inilah firman-Nya : “maka mereka akan dapatkan
Allah swt menerima tobat mereka dan Maha Berkasih Sayang”.

Dan telah teriwayatkan jamaah diantara mereka Syeikh Abu Nashr bin Asshibagh pada
kitabnya Assyaamil, mengenai riwayat yang masyhur dari Imam Al Utby, maka ia berkata
: suatu waktu aku sedang duduk dihadapan Kubur Nabi saw, maka datanglah seorang
Dusun dan berkata : Assalamualaika Yaa Rasulullah, aku menegtahui firman Allah swt :
..(seraya membaca ayat diatas).., maka kini aku datang padamu, memohon pengampunan
dosa, dan memohon bantuan syafaatmu kepada Tuhanku”. Lalu ia berpantun : Wahai
Yang sebaik baik dimakamkan pada belahan bumi mulia, maka termuliakanlkah sebab
kemuliaannya wilayah sekitar, Diriku adalah penjamin keselamatan Kubur yang engkau
menempatinya, karena terpendam padanya Maaf Allah swt dan kedermawanan dan
Keluhuran”.
Lalu orang dusun itu keluar, maka aku (Imam Al Utby) mengantuk, lalu aku bermimpi
Rasul saw dalam tidurku dan berkata : Wahai Utbiy, kejar orang dusun itu, katakan kabar
gembira untuknya bahwa ia telah diampuni Allah swt. Selesai ucapan imam Ibn Katsir.
(Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 2 hal 347/348, Annisa 64).
Demikian pula hikayat ini diriwayatkan oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi pada kitabnya
Al Majmuk juz 8 hal 217, dan pada kitab Al Iidhah hal 498.
Bacaan yang dianjurkan saat berziarah ke makam beliau saw tentunya memperbanyak doa,
sebagaimana para sahabatpun demikian, dan tentunya bersalam kepada Rasul saw, Khalifah
Abubakar Asshiddiq ra dan Khalifah Umar bin Khattab ra yang sama – sama dimakamkan di
tempat tersebut secara berdekatan. Wallahu a’lam

PERINGATAN MAULID NABI SAW dan hukumnya


Ketika kita membaca kalimat di atas maka di dalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat
ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas
penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah
keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta,
mabuk - mabukkan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan
lainnya, demikian adat istiadat di seluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.
Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari
kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari
wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala Shahihain hadits
No.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah
ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman)
melihat bintang - bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya, lalu ia
melihat cahaya terang - benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang
benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
• Riwayat Shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi
saw melihat cahaya yang terang - benderang hingga pandangannya menembus dan melihat
Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah
jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang 1000 tahun tak
pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul
menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad
Rasulullah saw di alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada
kelahiran Nabi - Nabi sebelumnya.

Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah
hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits No.1162). Dari
hadits ini sebagian saudara - saudara kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw
asal dengan puasa.
Rasul saw jelas - jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda di hadapan beliau
saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau
saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh - boleh saja..”,
namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari
kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd
bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka
amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas - jelas bahwa zeyd
memahami bahwa 1 Januari adalah hari yang berbeda dari hari - hari lainnya bagi amir?
dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 Januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti
amir ini termasuk orang yang perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dengan
hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut - nyebut bahwa 1 Januari adalah
hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan
kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yang
lebih luas dari sekedar pertanyaannya. Sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan
umroh pada 1 Januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yang berpendapat
bahwa boleh merayakan maulid hanya dengan puasa saja maka tentunya dari dangkalnya
pemahaman terhadap ilmu bahasa.

Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab
: hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada
pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa di hari itu.
Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw,
karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya Islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka
Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka
Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi
saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang - benderang, dan
langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam
tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain
hadits No.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan
Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka,
Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah
karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits No.4813, Sunan
Imam Baihaqi Alkubra hadits No.13701, Syi’bul Iman No.281, Fathul Baari Almasyhur juz
11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini di bantai di alam barzakh, namun tentunya Allah
berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah
menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan
membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun
mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang
kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan
kenalilah akidahmu 2 63
Nabi saw maka Imam - Imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah
bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh Imam - Imam dan mereka tak
mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar ra, lalu
Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini di hadapan orang yang lebih mulia
dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan
berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan doa : wahai Allah
bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (Shahih Bukhari
hadits No.3040, Shahih Muslim hadits No.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana
beberapa hadits shahih yang menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa
yang dilarang adalah syair - syair yang membawa pada Ghaflah, pada keduniawian. Namun
syair - syair yang memuji Allah dan Rasul-Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw
bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak
riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk
Hassan bin Tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair - syairnya (Mustadrak
ala Shahihain hadits No.6058, Sunan Attirmidzi hadits No.2846) oleh Aisyah ra bahwa
ketika ada beberapa sahabat yang mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata :
“Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw” (Musnad
Abu Ya’la Juz 8 hal 337).


Minggu, 22 Desember 2013

PENGURUS RABITHAH ALAWIYAH cabang eks karesidenan Banyumas 2009-2014

Dari kiri ke kanan
  • Ali Ridho bin Alwi Alattas                           Wakil Ketua
  • Lukman bin Mustofa Assegaf                   Sekretaris I
  • Husen bin Salim BSA                                  Dewan Penasehat
  • Ali bin Umar Qudban                                   Ketua
  • Syaugi bin Hamzah Alhabsyi                      Bendahara 
  • Abdulkadir bin Muh Naqib Mulahela        Sekretaris II

MARHABAN YA RASULALLAH SAW. ( Maulid Nabi Muhammad SAW )

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi.
RASUL
Rasul adalah seorang laki laki merdeka yang menerima risalah atau wahyu dari Allah dan ia juga diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.  Jadi boleh dikatakan juga bahwa setiap rasul pasti nabi tapi tidak semua nabi itu adalah rasul.
يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
Allah berfirman ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (al-Maidah: 67)

NABI
Nabi adalah seorang laki laki merdeka yang diturunkan kepadanya risalah atau wahyu dari Allah untuk diamalkan, namun tidak diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.
Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi berarti bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Rasul diutus untuk membawa risalah kepada manusia, untuk membawa syariat Allah dan agama yang harus disampaikan lagi kepada manusia, sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah dan syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikanya kepada manusia.
Kenabian adalah pemberian Allah semata. Tidak semua orang bisa menjadi nabi atau julukan nabi. Kenabian tidak bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tidak mungkin mendapatkan gelar nabi dengan usaha, karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang dikehendaki sebagai nabi itu telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Tentu sebelum jadi nabi, Allah menjaganya dari perbuatan yang buruk dan melindunginya dari segala maksiat serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang luhur.
Jelasnya, bahwa kenabian tidak diperoleh dengan usaha tertentu, namun kenabian itu anugrah dari Allah diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan tertentu. Kenabian bukan diberikan kepada orang yang mengharapkan dan memohon menjadi nabi.
Dan kita sebagai muslim, diwajibkan meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid. Beriman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib dan merupakan rukun iman tanpa membedakan beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain sebab hal tersebut sama dengan tidak beriman kepada semuanya. ”(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”,” (Al-Baqarah, 285).

JUMLAH PARA NABI DAN RASUL
Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (al-Ghafir, 78).
Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.
Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka.
terakhir, wajib bagi kita orang muslim untuk cinta dan mengikuti beliau Nabi Muhammad SAW